Kamis, 22 November 2012

PERNAHKAH ENGKAU TAHU BAHWA KAU ADALAH PAHLAWANKU ?



Tulisan ini Untuk Seorang Pahlawan Terbaik dan Terhebat Dalam Hidup Saya. Iya, Dia adalah AYAHKU.
Kamis siang saya lagi menunggu adik-adik saya yang hebat, untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kegiatan pelatihan desain media oleh Forum Mahasiswa PKIP FKM Unhas. Saya menunggu di tempat di mana sering kuhabiskan waktuku akhir-akhir ini ketika sayaberada di kampus. Tiba-tiba datang seorang Rafiqah (biasa sayapanggil ade’ Fiqah), membawa dan melaporkan apa yang menjadi tugasnya. Iya, ada beberapa perbaikan dari apa yang menjadi tugasnya tersebut. Anehnya dia datang tidak bersama teman-temannya. Dia datang dengan membawa 3 dari sekian banyak buku koleksinya. Sejenak saya memandangi buku-buku itu, mata saya tertuju pada salah satu buku yang berlatar warna biru langit. Tertuju ke sana karena warna kesukaan saya adalah warna itu. Judul bukunya tak terlalu jelas tulisannya (sudah kabur). Kuhampiri dan sayaambil. Ternyata judulnya ‘The Power of Attitude’ yang ditulis oleh Mac Anderson seorang pendiri successories. Kata yang kemudian muncul dalam hati saya‘wow’. Dengan senyum saya bilang ke Fiqah, Ade’ bukunya saya pinjam yaa. Ok kakak, Jawabnya.
Setiba di rumah, saya istrahat dan melakukan aktifitas seperti biasa. Sekitar pukul 20.38 saya mulai membuka halaman pertama. Hasrat yang kemudian muncul adalah keinginan terus untuk membaca melanjutkan ke halaman-halaman berikutnya. Tapi, apadaya mata tak lagi menoleransi keinginan diriku untuk melanjutkan bacaan. Berhenti di halaman 13. Sampai pukul 23.13 saya terbangun kembali dan melanjutkan bacaan. Anda tahu, buku ini sangat luar biasa, dan saya patut berterimakasih pada ade’ Fiqah.
Saya terpacu untuk menulis saat bacaanku sampai pada halaman 96. Di sana ada satu kalimat yang mengigatkannku pada jasa seseorang pada diriku, yang saya sebut-sebut pahlawan terbaik dan terhebat di duniaku. Seperti ini kalimatnya : …pernahkah kau tahu bahwa kau adalah pahlawanku ?...melihat kalimat ini saya berhenti membaca dan kemudian mengambil laptop kemudian menuliskan apa yang ada di kepala saya tentang kisah seorang pahlawan ketika saya di sampingnya ataupun ketika kami berjauhan.
Di teras rumah, tempatku biasa menghilangkan penak di pikiran saya mulai menulis. Kala itu udara sangat dingin hingga menembus tulang-belulang bahkan sampai menghujam jantung. Malam sangat indah, seolah melukiskan kisah indah bersama sang pahlawan sejatiku.
SERIBU BULAN SATU NAMA, dia adalah Muskamil. Dia adalah ayah saya yang sangat hebat, Dia adalah guru saya, dia adalah sahabat saya, dia adalah pahlawan saya dan dia adalah segalanya buat saya.
Ayahku Hebat
Iya, masih ku ingat kala hidup telah memilih dan membawa saya ke dunia ini. Melalui Rahim seorang ibu yang sangat mulia. Kala itu ayahku mengumandangkan adzan di telinga kananku yang juga biasa dilakukan oleh ayah-ayah yang lain. Itulah mungkin hal pertama yang beliau lakukan terhadapku di dunia ini.
Iya, banyak hal yang kemudian tidak bisa saya hitung betapa banyaknya yang dilakukan beliau terhadapku. Ibuku pernah bercerita padaku, kala usia saya menginjak mingguan ayahku selalu menimangku, “menggendongku” membawa saya keluar rumah, memberi makanan untuk kesehatanku dengan memaparkan sinar mentari pada diriku. Ketika saya menangis beliau merangkulku, beliau merangkulku dengan pelukan hangatnya. Beliau menuntunku saat saya merangkak hingga saya dewasa seperti sekarang. Beliau selalu mengajarkan etika dan budi pekerti kepada anak-anaknya. Bukan hanya itu, beliau juga selalu mengajakku jalan-jalan menikmati indahnya panorama alam, menikmati indahnya pagi. Indahnya awal hari ketika cahaya jingga dibalut kuning emas muncul di ufuk timur, itulah kebenderangan yang selalu mewarnai hidupku ketika bersama dengan beliau.
Masih kuingat, kala itu saya berada di usia 4 tahun. Setiap awal hari ayahku membangunkanku, untuk menikmati indahnya senyuman sang mentari. Setiap pagi beliau selalu mengajakku mandi embun yang ada pada helai dedaunan hijau di kebun singkong. Dari rumah ke kebun itu saya digendong penuh dengan kasih dan sayang. Melewati hutan mente di kampong halamanku tercinta. Di hutan mente terdengar suara nyanyian burung yang bersahut-sahutan di padi hari. Indah rasanya. Ingin kuulangi, tapi apa daya satu sungai tidak mungkin dilewati dua kali begitu pula dengan masa lalu.
Ayahku juga Guruku.
Ketiaka saya berusia 7 tahun dan mulai mengenal dunia pendidikan. Saya bersekolah seperti halnya anak-anak yang lain teman sebayaku. Yang bisa kuceritakan di usia ini adalah di saat saya belajar mengeja sebuah kata dan kemudian membacanya. Sederhananya adalah belajar membaca. Beliau penyayang tapi berkarakter keras dan sangat dingin. Hampir setiap malam air mata keluar akibat pelajaran dari seorang ayah. Iya, kupikir ini adalah pelajaran paling susah buatku. Bagaimana tidak, beliau selalu berteriak, membentakku, dan memukul jari-jariku ketika saya salah dalam mengeja setiap kata. Iya, ayahku sangat keras untuk kehebatan anak-anaknya.
Anda tahu, apa pesan ayah di malam terakhir mengajariku membaca? Ini pesannya : ‘berusahalah, bertahanlah nak, kamu pasti bisa’. Keesokan harinya kala itu sayaberada di ujung hari cahaya jingga yang memerah tampak di ufuk barat seolah mentari akan menghujamkan dirinya di perut bumi. Saya duduk di atas tumpukkan balok kayu memegang sebuah buku bacaan untuk anak SD kelas 1 menikmati indahnya sore dengan terpaan angin yang sangat lembut. Yang ada di kepalsayamemikirkan apa yang dikatan ayahku tadi malam. Dalam hati berkata, yaa ALLAH biarkan saya bisa membaca. Kemudian perlahan saya membuka buku tersebut kemudian membacanya. Alhamdulillah saya bisa membaca, ini adalah mukzizat dari ALLAH. Itulah awal mulanya saya bisa mengeja dan membaca.
Di wajah beliau tampak senyuman indah, yang menggambarkan bahwa dia bahagia akan anaknya yang sudah bisa membaca.
Pesan untuk seorang anak yang berpetualang mencari ilmu
Ketika saya tamat SMP, yang ada di kepala saya, saya harus sekolah di Kota. Kala itu suasana menjadi kelabu, ibuku menangis mendengar anaknya yang masih berusia 13 tahun akan meninggalkannya untuk mengadu nasib di Kota mencari ilmu. Ayahku tersenyum sambil berkata teruslah berjalan nak. Dan itu adalah sebuah keinginan yang sangat mulia. Ayah siap menyekolahkanmu sampai kapan pun selama ayah masih mampu membiayai kamu. Pergilah.
Seminggu kemudian saya pamit kepada kedua orang tua saya yang selalu sayakasihi, yang karena keduanya saya rela kehilangan nyawa. Pesan dari ayahku pergilah nak, baik-baik di sana. Sekolah dengan baik, belajar dengan baik. Tapi ada satu pesan lagi yang selalu melakat di kepala saya sampai kekarang bahkan mungkin sampai jantung tak lagi berdetak bersama tiang pasak. Ini pesannya “berbuatbaiklah kepada sesama, perlakukanlah mereka sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Mulailah dengan ikhlah, jujurlah pada sesama juga pada dirimu. Kesuksesan akan selalu menghampirimu”. Pesan yang sangat luar biasa menurutku.
Banyak kisah dan cerita antara sayadan pahlawanku (ayahku), yang mungkin tak habis dan tak berujung untuk diceritakan.
Yang pada akhirnya saya bilang Beliau sangat hebat.
Hebat tak ada tara dan tandingannya saya rasa. Seorang ayah telah mengajarkan kepadsayabagaimana kemudian menyikapi kerasnya kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Mengajarkan kepada saya bagaimana menjalani hidup dan kehidupan yang seolah tak perhah terpisahkan dengan onak dan duri yang selalu menghalangi jalan setiap manusia. Iya, beliau mengajarkanku bagaimana bertahan pada satu titik di kehidupan ini, bertahan pada satu titik untuk tidak menjauh dan mengasingkan diri dari berbagai problematika kehidupan. Beliau sangat hebat.

Ini untuk seorang pahlawan

SayaCinta Ayah

Telah Rapuh tulang-tulangmu
yang dahulu kau gunakan
untuk memberikan kami sesuap nasi
untuk menunaikan kewajibanmu sebagai kepala keluarga

Kini… kau berdaya lagi melakukan semuanya
kini… kau hanya mampu memberikan kami nasehat
kini… kau hanya mampu mengucapkan doa yang tulus untuk kami
untuk anak yang telah kau besarkan dengan kerja kerasmu

Ayah….
Air mata ini tak mampu membalas semuanya
semua yang kau lakukan untuk hidup kami
semua yang kau berikan kepada kami

Ayah…
Kasih sayang mu takkan mampu tergantikan orang lain
Perhatian yang kau berikan kepada kami takkan pernah kami lupakan
Walaupun kadang kami tidak mengindahkan semua yang kau berikan
Kadang kami tak pernah menghargai semua yang kau berikan

Kini, kamilah yang harus melakukan semuanya
Kamilah yang harus membalas semuanya
Kamilah yang harus memperhatikanmu…

Ayah….
Izinkanlah kami menjadi anak yang berbakti kepadamu
Anak yang tak melupakan kasih sayangmu
Izinkanlah kami untuk membahagiakanmu

Meskipun kami sadar
itu semua tidak bisa membayar semua yang telah kau berikan
dan kami sadar, nyawapun takkan mampu membalas semuanya…

Terima kasih ayah…
Kini kami menjadi orang yang mampu berdiri
kini kami mampu menjadi orang yang mandiri
kini kami mampu menapaki hidup dengan doa dan kasih sayangmu…

Ayah…
Pernahkah engkau berpikir bahwa kau adalah pahlawan kami ?

SALAM TERANG
SYAHRIN KAMIL

0 komentar:

Posting Komentar

Lorem ipsum dolor

Visitor

Content

Featured Posts

Pengunjung

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

Search This Blog

Popular posts

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com