Jumat, 17 Mei 2013

Amarahku Bukan Benci, Wajahku Bukan Hatiku


***
"Aku menegur karena aku menyanyangimu ! Catatlah ini di tempat yang mereka tidak bisa melihat apalagi membacanya"
Korek Api
________________________________________________

***
ASIANGKO !

Hai 'perempuanku'  yang hebat dan yang mengehebatkan, apa kabar?. Semoga engkau adalah sebaik diriku (sehat). Amin... Tentunya kau tidak akan merasa kaget melihat judul itu. Iya kan ? hehe.
Tulisan ini adalah tamu di Rumah Puisi yang diundang oleh 'tuan rumah'. Ini bukan cerpen apalagi puisi.

***
Aku adalah tipe manusia yang hobinya menghayal, hingga sejadi-jadinya khayalan itu. Iya, itulah kebiasaan saya. Salah satunya adalah ketika 'kita' adalah dulu tentang sekarang. Makanya aku bilang bahwa ini adalah sebuah de javu dari khayalanku di hari kemarin. Barangkali.

Lupakanlah !
Tulisan ini bukan tentang itu.

Satu hal yang membuat mataku seronok gemas dalam setiap tatap raut wajah yang menawan. Hatiku terperangkap elok jiwamu yang tergodok terlukis nyata dalam lakumu. Maka aku biarkan mata dan hatiku menikmati nikmat dari-NYA yang DIA kirim lewat jiwa ragamu. Akhirnya aku tak perlu heran mengapa aku begitu menyayangimu, sungguh. 

Kisah ini belum lama berjalan, seumur jangung barangkali pantas untuk waktu ini. Insya Allah kita sudah berjanji untuk memupuknya bersama-sama dengan dengan baik, walaupun kita harus berjalan dengan tergontai. Itu janji kita !. 

***
Amarahku Bukan Benci, Wajahku Bukan Hatiku !

Gadisku yang bergingsul manis, perempuanku yang hebat. Itulah panggilan yang memang pantas untuk dia dariku.
Lihatlah aku dari sisi yang lainnya. Biarkanlah hatimu berbicara, jangan biarkan matamu, telingamu apalagi pikirmu menguasai dirimu. Ingat Pikiran kita, mustahil melampaui hebatnya hati kita. Itulah ilmu saya. 

Kita adalah pasangan yang begitu banyak beda. Jelas ! Tapi, itu bukan sebuah masalah, itu tak lebih besar dari setitik debu di jalanan. Karena kita memiliki sama yang begitu hebat 'RASA YANG SAMA'. 

Gadisku yang hebat, betapa aku menyanyangimu, hingga melebihi sayangnya aku pada aku. Selalu saja aku memelototi setiap gerak yang kau cipta. Ketika menurutku salah maka tegur akan ada. Ketika kau membantah maka senyum yang tercipta dariku, sesekali helaan napas yang panjang itulah "amarahku" tapi bukan benci. Saat amarahku membuncah wajah sinis bak serigala kelaparan tampak di wajahku. Tapi itu bukan hatiku. Aneh memang, aku bahkan tak pernah tahu bagaimana marah yang benar.

KOREK API
(Pria Kharismatikmu)

*** 





0 komentar:

Posting Komentar

Lorem ipsum dolor

Visitor

Content

Featured Posts

Pengunjung

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

Search This Blog

Popular posts

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com