Rabu, 21 November 2012

SENDIRI

0 komentar

Di kesepian malam aku sendiri
Termenung dibawah cahaya rembulan
Kelap-kelip para kejora
Yang selalu setia menemani sang rembulan
Di alam..
Pucuk-pucuk daun meliuk indah
Mengikuti irama sang bayu perlahan

Angin…., Aku hargai kau menghiburku
Memang tidak ingin aku berlama-lama
Larut dengan gelapnya malam
Terombang-ambing oleh kelamnya awan
Angin…., Tolong katakan pada bintangku
Aku rindu dan berharap dia hadir disini
Dengan segala ketulusan cintaNya
Ingin aku mengajaknya bernyanyi
Menari, berdansa berdua
Angin…, katakanlah padaNya
Aku perlu belaian sejuta kasihNya
Ingin aku menikmati indahnya malam ini
Dengan kehangatan peluk mesraNya
Angin…, untuk yang terakhir
Katakanlah padanya
Aku benci dengan kesendirian ini
               =Syahrin Kamil=

KUJELANG

0 komentar


Pagi yang indah kujelang kembali
Menghempaskan mimpi meraih bergantinya hari
Di ufuk timur tersirat cahaya kedamaian
Sejenak siang kan berusaha mendepak
Aku bilang pada diriku
Ini akan….
Membangkitkan semangat menghangatkan perasaan
Hembusan angin menemaniku berjalan
Mengiringi langkah berpadu dalam kepastian
Gemersik dedaunan bak irama kehidupan
Kicauan burung di pagi itu
Hembusan sang bayu
Sepoi-sepoi
Mereka selalu dan
Selalu setia menyanyikan lagu kemenangan
Dalam menggapai makna cita dan cinta
Dalam mewujudkan makna hidup yang sesungguhnya
Hidup akan aku
Biarkan pergantian hari terus berjalan
Karena setiap saat akan selalu kujelang
Sampai akumulasi detik ini berhenti
Semua terus akan kujelang sampai jantung
Tak lagi berdetak
Bersama tiang pasak

Senin, 19 November 2012

IBUKU PALING CANTIK SEJAGAD

0 komentar
SERIBU BULAN SATU NAMA dan disetiap awal hari cahaya jingga, kemilau keemasan terpancar di ufuk timur. Setiap ujung haripun dua cahaya itu tetap jua terpancar di ufuk barat. Seolah merekah tersenyum menjalani hari ketika diawal, dan santun sebelum meninggalkan hari ketika ujung akhir hari. Iya, dia Matahari. itulah sumber cahaya itu. Karunia Sang Pencipta yang tiada tertandingi penguasa seluruh jagat raya dan seluruh isi perut jagat ini. Rerimbunan tautan hijau, kebun singkong, kacang, jagung, area hutan jati.
Disana Seorang wanita kupikir dia adalah wanita mulia. Iya, memang dia adalah wanita mulia. Pertama kali memperlihatkan cahaya jingga itu, kemilaunya, Santunnya yang ramah menyudutkan satu kata di hati.,”subhanallah..!!!”. kepada buah hati yang dikandungnya.   Sore itu perempuan perkasa, cantik mempesona, tidak terlalu tinggi, kalau pun jadi pramugari pasti pantaslah beliau pantas sepantasnya. Gerai rambutnya lurus namun hitam kusam, kuku kukunya pecah pecah tak lagi berwana putih suci seperti dulu saat baru dilahirkan dari rahim ibunya, kini warnanya putih kekuning kuningan karena tanpa lelah berdharma bakti demi keluarganya. Postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi itu, tapi tak sedikitpun gerakkannya yang menggambarkan ketidakkuatannya, tak ada sahabat..!! Lengannya berotot seolah lengan-lengan pelaku panco yang tiap harinya dibuatnya untuk membersihkan kebun kecil dan halaman istananya. Kakinyapun berotot seolah kaki kaki bodi guard yang tiap harinya dibuatnya untuk berjalan kaki kepasar membawa jualannya, sebut saja jualannya itu roti goreng dan aneka gorengan lainnya. Kesemuanya itu adalah buatan sendirinya. Sangat mulia kurasa, beliau lakukan untuk membelikan apa yang diinginkan oleh delapan buah hati yang dikasihinya. Telapak kakinya serupa tanah persawahan yang kering kerontang tak ada hujan selama bertahun-tahun dan tak pernah dibajak sehingga pecah pecah selaras pandang. 
Kau tahu sahabat siapa perempuan perkasa itu sahabat..???  Ia adalah Ibuku,,sahabat!!   Seribu bulan Satu nama dan nama itu adalah WA ODE UMI indah bukan nama itu!! Itu adalah nama Ibuku sahabat!! Namanya adalah gambaran pesona jiwa, cinta kasihnya yang murni,,Kepada keluarganya, kepada sekitarnya. UMI arti yang sebenarnya adalah buta huruf. Iya, tapi tidak buta akan kasih dan cinta kepada keluarga dan sekitarnya. Perkasanya membuat aku malu jika aku harus menyerah untuk mengejar mimpi, cita cita dan harapan. Maka yang aku lakukan adalah terus merangkai mimpi dengan imajinasi juga kerja keras dan do’a. Ibundaku tercinta yang cantiknya tiada tara sejagad raya, yang budi pekertinya laksana air yang membersihkan tubuhku selepas aku bermain tanah putih di halaman istana kecil kami seharian dengan satu kakak perempuanku dan enam adik-adikku. Senyumnya seakan membangkitkan semangatku, anak kedua putra pertamanya dan lelahnya adalah tangisanku.   Ibuku karap kali membelaku, dibanding bandingkan dengan saudara-saudaraku yang lainnya. Belakangan baru aku tahu mengapa ibuku selalu membelaku, kala aku masih kecil diusia 7 sampai 13 tahun ibuku selalu menyiksa dan memukuliku dengan kayu karena kesalahanku. Bahkan sebelum aku ke Makassar berpetualang mencari ilmu, ibu acap kali mengeluarkan air mata bak Kristal yang jatuh dari langit. Pikir anaknya yang dulu selalu disiksanya.
Ibuku adalah seorang pekerja keras sahabat, yang tanpa lelah selalu menjadi penopang hidup keluargaku setelah ayahku.   Kali ini aku bingung harus menulis apalagi untuk mengungkap semua hal tentang ibuku tercinta. Kecantikannya tiada yang mampu menandingi, Cantiknya Nasrah, Bawelnya Asri, teduhnya Mustika, Hingga perempuan terkasihku sekalipun tiada yang mampu menandingi ibunda tercintaku. Tiada sahabat, tiada yang bisa.  Selamat Ulang Tahun Ibu,,Selamat Ulang Tahun, Aku tahu Ibuku takkan pernah tahu bahwa esok adalah ulang tahunnya. karena seumur umur ia tak pernah tahu apa itu Ulang tahun apalagi merayakannya. Tak pernah sahabat,,tak pernah sekalipun,,   Seumur umur itu juga aku tak pernah pula mengucapkan kalimat itu sahabat,,,,!! sumpah aku tak pernah. Karena tiap kali aku bertanya tanggal berapa ibuku dilahirkan, Ibuku tak pernah tahu kapan Ia dilahirkan, Mungkin baginya tanggal kelahiran tak jauh lebih penting ketimbang kabahagian keluarga..   Namun aku meyakini hari itu, 19 November adalah tanggal ulang tahun ibuku, Tanggal itulah tanggal lahir ibuku,,aku meyakini itu,,meski Ibuku tak pernah tau,,entah aku mendapat ilham dari mana, hanya saja aku ingin mengucap kalimat ulang tahun kali ini untuk ibuku,,untuk yang pertama kalinya,,pertama kali dalam hidupku, dan pertama kali pula seumur hidup ibuku..pertama kali,.   Selamt Ulang Tahun Ibu,,Selamat Ulang Tahun,,!!!   I miss and love U,,forever,,Forever,,forever!!!

SALAM TERANG
SYAHRIN KAMIL

Sabtu, 17 November 2012

Yang Lalu, Yang Hilang

0 komentar


            YANG HILANG akan berlalu, yang lalupun akan hilang bersamaan dengan akumulasi detik yang tak henti berrotasi. Dua penggal kalimat ini buatku adalah pelajaran paling berharga untuk semua orang, itu menurutku. Dari deretan pengalaman hidup yang indah, yang manis, bahkan yang buruk akan tertuang dalam tulisan ini. Ketika aku berpetualang dalam mencari sesuatu yang aku cari, kesemuanya itu juga termuat dalam tulisan ini. Perjalanan ini kurasa unik juga menyenangkan. Keunikan itu terlukis dari gejolak kehidupan saya. Keluarga, Sahabat, teman, bahkan mereka yang pernah menjadi kekasihku. Merekalah yang membuat hidupku unik dan menyenangkan terutama ketika waktu seharian kuhabiskan dengan mereka yang pernah menjadi kekasihku.
            Kembali…
            Yang hilang akan berlalu,
            Entah berpamit atau menghilang tanpa kata dititipkan untukku, untukmu, untuknya dan untuk mereka yang ditinggalkan. Iya, ‘bejat’ memang kupikir mereka yang pergi tanpa pamit.
            Iya, kurasa yang kutulis ini bukan tentang kebejatan yang hilang tanpa kata. Tapi, keindahan yang pernah terjadi dalam hidup yang pernah diukir olehnya yang hilang dalam hidupku.
            Kupikir masa itu…
            Ketika aku berjalan mundur dan hilang dari tempatku berpijak saat ini dengan kurun waktu mungkin 3 atau 4 tahun. Kemudian aku berjalan ke depan kembali menapaki jejak itu.
            Indah Rasanya, Iya sangat Indah…
            Yaa.. Sebuah keindahan juga kedamaian yang kurasakan. Tapi, kembali lagi ada kata tapi. Di sisi lain kedamaian itu terkadang membuatku gelisah. Kegelisahan akibat terlena dengan suasana indah. Hidupku seolah tak punya arah dan tujuan. Pernah berpikir untuk mati saja. Logika tak lagi sejalan dengan kata hati yang paling dalam. Aku juga sudah mulai ragu dengan apa yang dikatakan oleh kalbuku. Untung aku sadar sepintar-pintarnya diriku, logikaku, tak sepintar hatiku. Iya.. Itulah yang menyelamatkannku.
            Suatu waktu aku berpikir bahwa aku ini telah mati. Bagaimana tidak, aku berada di lingkungan banyak orang sedangkan mereka tak menghiraukannku. Maka aku berpikir bahwa aku telah tiada. Kala itu, otakku serasa akan pecah. Pikiranku berkelana, pikirannku berpetualang tak tahu entah ke mana tak ada akhir, tak ada batas untuk itu. Sampai akhirnya aku menemukan muara dari petualangan itu. Muara itu berpusat pada satu tempat kusebut itu ‘Entah Berantah’ karena aku tak tahu tempat itu apa, di mana, siapa penghuninya. Di sana aku melihat lelaki tua, lekuk badannya bak busur panah yang hendak menghempaskan anak panahnya. Di kepalaku timbul tanya entah apa yang ada di kepala lelaki tua itu, dia berjalan sembari tersenyum kecil menghitung langkahnya. Kemudian sekonyong-konyong aku mendekati dan menyalaminya. Aku bercerita kepadanya tentang apa yang kualami saat ini. Panjang kuceritakan kisahku, diakhir dia berkata “jadilah pemenang atas dirimu”. Kemudian hilang dari hadapanku. Oh ternyata aku bermimpi.
            Mimpi itu yang membangunkanku dari tidurku, dari masalahku. Kalimat lelaki tua itu melekat di kepalaku. Hingga aku tersadar bahwa aku berada pada jalan yang salah. Suatu malam di sepertiga malam terakhir aku terbangun. Aku kemudian menghampiri kran air. Kemudian aku Membasuh kedua telapak tanganku, sampai akhirnya Membasuh kedua telapak kakiku. Kemudian di atas sajadah Tua ku kedua tanganku menengadah memohon kepadanya aku berdo’a Tuhan tunjukkan jalan yang benar untukku, Bantulah aku menjadi pemenang atas diriku. Tak sadar tetesan air mata membasahi sajadah tuaku tersebut.
            Cerita di atas mengisahkan ketika aku menjalin kasih dengan teman kuliahku, dia adalah Nurjanah.  Hasil dari do’aku akhirnya aku sadari bahwa aku bermasalah dengan diriku, aku futur bukan karena dia, bukan karena mereka, tapi dirikulah yang bermasalah dengan diriku. Sampai akhirnya aku ceritakan masalah pada dua sahabatku yang hebat, sahabat yang aku kasihi, Adi dan Baim. Mereka hebat, ketika aku jatuh, mereka berdua membangunkanku, ketika aku salah mereka menegurku, mereka mengkritisiku, aku sangat bersimpati pada mereka. Setelah mendengar curhatannku, mereka bilang ikuti kata hatimu sambil menepuk dada kiriku, hilangkan sedikit keakuanmu. Semua akan baik-baik saja.  
            Aku tersenyum…
            Dan berkata kepada mereka, terimakasih teman.
            Aku pernah menulis seperti ini
            Aku berpijak dan berjalan di bumi-NYA
            Kesemuanya… Rahmat & Cinta dari-NYA
             DIA telah memberikan keAKUan padaku
            Sehingga aku bisa hidup seperti seharusnya
            Tapi,..
            Kembali lagi kata tapi bersama tulisan ini
            Keakuan ini haram untuk melukai hati yang suci
            Hati yang suci pada seorang wanita mulia.

            =Syahrin Kamil=
           
            Inilah yang menyadarkan aku bahwa aku memang benar-benar bermasalah dengan diriku.

            Dua penggal kalimat ini kuperuntukkan Dia yang pernah menjadi kekasihku. Ketika masa lalu berlalu maka yang lalu perlahan akan menghilang untuk selamanya. Bersamanya hidupku indah dan juga ketidakindahan selalu ada. Suatu ketika Ramadhan datang, aku jemput ini dengan hati yang bahagia. Awal Ramadhan kurasa sangat indah. Ya bagaimana tidak? Ada yang selalu membangunkanku disaat sahur menjelang.
            Tapi, petaka datang ketika wanita itu meninggalkan sejenak kota ini, ke kota asalnya. Komunikasi aku, dia sangat jarang. Sejenak aku berpikir dan bertanya. Apa gerangan yang terjadi pada kami. Pikiranku kembali berkelana mencari apa yang harusnya aku dan dia lakukan. Tapi, kesemuanya tak ada titik yang kutemui. Alhasil pertengkaran kembali mencuat di permukaan.
           
            Keakuanku Membahana…
            Itu hal yang kembali terjadi pada diriku, dirinya.
            Ketidakcocokkan mulai aku rasakan, kami tak mungkin lagi bersama. Handphone kecilku kemudian membantu untuk berbicara dengannya. Satu kata yang aku bilang. ‘Kita Selesai’!. Haa.. katanya. It’s ok. No problem. Pembicaraan putus. Tak ada komunikasi. Seminggu lamanya waktuku dalam seminggu itu kuhabiskan di kepalaku untuk pikir dia yang sebenarnya masih kucintainya. Rindu masih miliknya, sayang masih miliknya. Tapi egolah yang mematikan semuanya.

            Maaf adalah senjataku…
            Setiap masalah menghampiri kata maaflah yang selalu setia menemani saya untuk menemuinya yang masih kucinta. Setiap kata maaf kuucap jawabnya juga dimaafkan. Hal ini rasanya nyaman dan menyenangkan. Di sisi lain, kenyamanan ini juga menggelisahkanku, kegelisahan mencuat karena kupikir seakan tidak ada perjuangan yang kulakukan untuk bersamanya lagi. Di kepalaku kembali muncul tanda tanya besar apakah dia benar masih bersamaku?. Entahlah.
           
            Semuanya Baik-baik saja…
            Akumulasi detik terus berjalan hingga membawa kami di satu waktu yang sangat indah. Kala itu aku, dirinya berjalan bersama menunggangi sepeda motor ku, entah tempat itu di mana. Tapi kurasa sangat indah. Yaa.. tidak ada masalah yang menghampiri. Senyumku senyumnya kembali merekah di bibirku dan bibirnya yang manis. Kebahagiaan seakan tak ada batasnya. Komunikasi sangat lancar. Hingga malam kami lewati tanpa lelap. Mata tak ingin tertutup, bibir terus berkata. Itulah mungkin kebahagiaan yang aku rasakan bersamanya.
            Dari itu pernah kutulis puisi
            Kala itu aku di sudut ruangan kecil di kampus ungu
            Seperti ini
            Entah apa.
            Apa yang ada di benak dua anak manusia ini.
            Aku bingung…
            Malam seakan milik mereka berdua
            Keduanya melewati malam tanpa lelap

            Malam…
            Dengan kebisuan tanpa warna
            Mereka meniadakan hal itu
            Warna tercipta ketika cerita tak berujung.

            Tapi, yang mereka ceritakan
            Yang keduanya bicarakan adalah sebuah ketidakwajaran.

            Entahlah…
            Yang ku tahu
            Mereka telah menciptakan taman langit
            Di malam yang bisu
            Di malam yang tanpa warna.

            =syahrin kamil=

            Pergi Tanpa Pamit…
            Ketidakjelasan hubungan kami kembali mencuat. Suatu ketika aku tanya kabar dan ingin bicara kecil dengannya. Dia berkata cari temammu untuk bercerita. Hatiku seakan dicabik-cabik, tubuhku seakan dicambuk seribu kali. Sakit kurasa. Iya kesakitan dikala bahagia tak lagi bersamaku. Kucoba beberapa kali untuk membujuk dia yang lagi masih kucinta. Tidak. Jawabnya. Kegilaan muncul di diriku. Pada akhirnya aku kirimkan pesan singkat dari ponsel kecilku ‘lakukan apa yang terbaik menurutmu, aku tak pernah ingin mencampuri urusanmu lagi’ selamat tinggal’. Tak ada respon, kukira dia telah pergi untuk selamanya. Iya memang benar adanya.
            Aku kemudian membisu…
            Waktu terus berlalu, sedangkan aku masih dan tetap membisu kala aku berhadapan dengannya. Kebisuanku terjadi akibat sakitnya hati yang kupunya. Hatiku seakan berteriak pada Tuhan. Tuhan aku bisa lintasi bumimu sampai dimanapun ujungnya, aku bisa rajai hari, aku bisa menjadi raja atas mereka. Tuhan aku sakit tolonglah aku. Hasilnya aku bahagia dengan bantuan Tuhanku, Tuhanku menjamah segala do’aku. Dan pada akhirnya aku bisa hidup seperti seharusnya.

            Hikmah itu kemudian muncul…
            Kebahagiaan muncul seketika…
            Sahabat kita hanya mampu merencakan sesuatu, tapi maha rencanalah yang memutuskan semuanya, masih ada rahasia dibalik rahasia, yang bisa kita lakukan mulailah dengan ikhlas jangan pernah memikirkan hasil dari apa yang kita kerjakan. Ketika kita beranjak dengan keikhlasan apapun hasil dari karya kita, kesemuanya dengan lapang akan kita terima, karena itulah yang terbaik untuk kita.
            Terakhir…
            Mencintai, anda siap untuk memberi
            Bukan menerima, bukan itu
           
            Tapi, satu hal yang akan ku bisikkan pada sahabat
            Aku bersyukur telah mencintainya
            Dengan mencintainya
            Telah memperluas wawasanku tentang
            Ketdakwajaran dan ketidakharusan untuk dilakukan



            Salam Terang
            SYAHRIN KAMIL

Lorem ipsum dolor

Visitor

Content

Featured Posts

Pengunjung

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

Search This Blog

Popular posts

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com